Cara Bikin Website Sekolah Sendiri Tanpa Ribet (2026)

Foto Fauzi Ahmad Kamil
Fauzi Ahmad Kamil
7 mnt baca 0x dibaca
Cara Bikin Website Sekolah Sendiri Tanpa Ribet (2026)

Malam hari, seorang ibu mengetik nama sekolahmu di Google. Ia ingin tahu jadwal pendaftaran dan seperti apa lingkungan belajarnya. Yang muncul hanya titik di peta, akun Instagram yang terakhir diperbarui dua tahun lalu, dan nomor telepon yang entah masih aktif atau tidak.

Kabar baiknya, cara membuat website sekolah tidak serumit yang dibayangkan, apalagi kalau kamu melihatnya dari kursi kepala sekolah, bukan dari kursi programmer. Kamu tidak perlu paham kode. Yang perlu diputuskan hanya beberapa hal: siapa yang mengurus, domain apa yang dipakai, halaman apa saja yang tampil, dan siapa yang merawatnya setelah tayang.

Sebagai gambaran, per Agustus 2025 tercatat sekitar 43 ribu domain sch.id. Jumlah sekolah di Indonesia jauh lebih banyak dari itu, jadi masih banyak sekolah yang belum memakainya. bisnis

Kenapa sekolah perlu website sendiri, bukan cuma media sosial?

Media sosial enak untuk kabar harian: foto upacara, lomba, kegiatan ekstrakurikuler. Masalahnya, informasi di sana tenggelam dalam hitungan hari. Orang tua yang mencari jadwal asesmen bulan lalu harus menggulir panjang, itu pun kalau akunnya tidak berganti nama atau berganti admin.

Website bekerja seperti papan pengumuman yang tidak pernah diturunkan. Alamatnya tetap, isinya tertata per kategori, dan bisa ditemukan lewat Google. Calon wali murid bisa langsung membuka profil, kalender akademik, dan kontak tanpa bertanya satu per satu lewat WhatsApp.

Ada juga soal kepercayaan. Domain sch.id disediakan untuk lembaga pendidikan dan pendaftarannya meminta dokumen resmi dari kepala sekolah, jadi alamat seperti ini memberi sinyal bahwa situsnya memang milik sekolah. Menurut saya, media sosial paling pas dijadikan pengumpan, sedangkan website adalah rumahnya. hostingerhostinger

Cara membuat website sekolah: urutan kerja dari nol

Ini urutan yang menurut saya paling masuk akal. Tiap langkahnya dibahas di bagian bawah.

  1. Tunjuk satu operator yang bertanggung jawab atas isi website.
  2. Daftarkan domain sch.id lewat registrar resmi.
  3. Sewa hosting, atau pilih paket yang sudah termasuk situs jadi.
  4. Bangun situsnya sendiri dengan CMS, atau lewat penyedia jasa.
  5. Isi halaman-halaman utama sebelum diumumkan ke publik.
  6. Jadwalkan perawatan rutin, minimal satu pembaruan setiap bulan.

Banyak website sekolah mati suri bukan karena tampilannya jelek, tapi karena tidak ada yang bertugas mengisinya. Makanya operator ada di urutan pertama, jauh sebelum urusan warna dan logo. Kalau mau melihat hasil akhirnya dulu, lihat contoh website sekolah yang sudah jadi lalu kembali ke sini.

Cara daftar domain sch.id dan dokumen yang perlu disiapkan

Domain adalah alamat website, misalnya namasekolah.sch.id. Ekstensi sch.id diperuntukkan bagi lembaga pendidikan formal dari TK sampai SMA, serta lembaga pendidikan nonformal. Pendaftarannya lewat registrar, yaitu penyedia domain yang resmi bekerja sama dengan PANDI sebagai pengelola domain .id, bukan langsung ke PANDI. hostinger

Dokumen yang biasanya diminta registrar adalah surat permohonan resmi dari kepala sekolah dengan stempel sekolah yang terlihat jelas, bukan stempel berkode QR, plus surat kuasa kalau pengurusannya diserahkan ke penanggung jawab. Beberapa registrar juga meminta surat pendirian lembaga dan KTP kepala sekolah. Satu detail yang perlu diperhatikan: nama sekolah harus tercantum di kop surat, dan kalau nama domainnya singkatan, singkatan itu dijelaskan di surat pernyataan. Persyaratan Pendaftaran Domain Indonesia di Hostinger +2

Soal harga, tiap registrar berbeda dan angkanya berubah-ubah, jadi cek langsung di keranjang belanja sebelum membayar (per Oktober 2026). Ada penyedia hosting yang memberi domain sch.id gratis untuk tahun pertama bila kamu mengambil paket hosting 12 bulan. Tanyakan sekalian biaya perpanjangan tahun kedua, lalu catat tanggal jatuh temponya di kalender sekolah. hostinger

Hosting dan cara membangun: sendiri, WordPress, atau pakai jasa?

Hosting itu ibarat tanah tempat rumah website berdiri. Domain tanpa hosting hanya alamat tanpa rumah.

Jalan pertama adalah membangun sendiri dengan WordPress atau CMS sejenis. Biayanya paling murah dan fleksibel, tapi butuh orang telaten yang rutin memperbarui sistem dan menjaga keamanannya. Kalau ada guru TIK yang suka utak-atik, jalur ini masuk akal.

Jalan kedua, memakai template atau layanan situs sekolah yang sudah jadi. Menu, halaman berita, dan panel admin sudah siap, tinggal diisi.

Jalan ketiga, memakai jasa pembuat website. Cocok kalau tidak ada yang punya waktu, asal domain dan akun hostingnya atas nama sekolah, bukan atas nama vendor. Kalau masih bingung mau mulai dari mana, kamu bisa serahkan pembuatannya ke PahamWeb saja, karena semuanya diurus dari awal sampai selesai.

Untuk sekolah yang belum punya tim IT, jujur saja, saya condong ke jalur kedua atau ketiga. Website yang hanya dipegang satu guru rawan berhenti begitu guru itu pindah tugas.

Halaman apa saja yang wajib ada di website sekolah?

Jawabannya: halaman yang memang dicari wali murid dan calon murid. Contoh nyatanya bisa dibuka di demo situs sekolah dari PahamWeb. Demo itu memakai nama sekolah rekaan, SMA Cendekia Nusantara, jadi semua isinya data contoh.

Strukturnya begini. Menu Profil berisi sambutan kepala sekolah, sejarah, visi dan misi, struktur organisasi, daftar guru dan staf, serta fasilitas. Menu Informasi memuat berita, pengumuman, kalender akademik, dan unduhan. Lalu ada kesiswaan (prestasi dan ekstrakurikuler), galeri kegiatan, kontak, dan halaman pendaftaran murid baru.

Ini bukan satu-satunya susunan yang benar, tapi cukup mewakili apa yang biasa dicari orang. Kalau harus memilih untuk tahap awal, saya mulai dari empat halaman: profil singkat dengan sambutan kepala sekolah, pengumuman, kalender akademik, dan kontak. Sisanya menyusul bertahap.

Soal penerimaan murid baru, istilah resminya sejak 2025 adalah SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru), menggantikan PPDB. Istilah PPDB sudah telanjur melekat, jadi sebut keduanya di halaman pendaftaran. Untuk tahun ajaran 2026/2027, SPMB memakai empat jalur: domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi. Tampilkan jadwal dan syarat sesuai juknis dinas pendidikan di daerahmu, karena jadwal pendaftaran berbeda-beda tiap wilayah. pemerintah resmi ganti sistem ppdb menjadi spmb +2

Berapa biaya website sekolah, dan bolehkah pakai dana BOS?

Biayanya terdiri dari domain, hosting, dan ongkos pembuatan kalau memakai jasa. Angkanya beragam antarpenyedia, jadi minta rincian tertulis dan tanyakan biaya tahun kedua, bukan hanya harga promo tahun pertama.

Untuk dana BOS, lampiran Permendikbud Nomor 8 Tahun 2020 pernah menyebut pembiayaan membangun, mengembangkan, dan memelihara laman sekolah berdomain sch.id sebagai bagian dari administrasi kegiatan sekolah. Aturannya sudah berganti, dan juknis tahun 2026 diatur dalam Permendikdasmen Nomor 8 Tahun 2026. Jadi sebelum memasukkannya ke RKAS, cocokkan dengan juknis terbaru dan konfirmasi ke dinas pendidikan atau pengawas sekolah. cnnindonesiakomunitasbelajar

Satu hal lagi yang layak diperhatikan: data siswa. UU Pelindungan Data Pribadi memberi perlakuan khusus untuk data anak, termasuk persetujuan orang tua atau wali. Praktisnya, minta izin sebelum memajang foto dan nama lengkap siswa, dan jangan menaruh alamat rumah atau nomor induk di halaman publik.

Siapa yang merawat website setelah tayang?

Ini pertanyaan yang paling menentukan. Website tanpa pembaruan bisa lebih merugikan daripada tidak punya website sama sekali. Pengumuman “pendaftaran dibuka Januari 2025” yang masih terpampang di 2026 membuat pengunjung ragu pada sekolahnya.

Kebiasaan kecil sudah cukup. Tunjuk satu operator dan satu cadangan. Targetkan satu berita dan satu pengumuman per bulan. Perbarui kalender akademik setiap awal semester. Simpan akun admin atas nama sekolah, jangan hanya di kepala satu orang, dan jangan memakai kata sandi yang sama dengan email pribadi.

Kalau penasaran seperti apa rasanya mengelola konten, kamu bisa mencoba alurnya langsung di versi demo. Di bagian atas halamannya ada tautan untuk mencoba panel admin, dan data contoh dikembalikan seperti semula setiap hari pukul 00.00 WIB, jadi aman untuk dicoba.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah website sekolah harus memakai domain sch.id?

Secara teknis tidak, domain .com atau .id biasa juga bisa dipakai. Tapi sch.id menandakan alamat itu milik lembaga pendidikan, jadi menurut saya lebih pantas untuk situs resmi sekolah.

Apakah kepala sekolah harus mengurus domain sendiri?

Tidak. Surat permohonannya memang dari kepala sekolah, tapi pengurusannya bisa diwakilkan ke penanggung jawab dengan surat kuasa. hostinger

Kapan waktu terbaik meluncurkan website sekolah?

Sebelum jadwal SPMB di daerahmu dibuka. Google butuh waktu untuk menemukan halaman baru, jadi halaman pendaftaran yang tayang lebih awal punya peluang lebih besar muncul saat orang tua mencari.

Mulai dari dua hal kecil hari ini

Tulis di selembar kertas enam halaman yang paling dibutuhkan wali murid di sekolahmu, lalu minta tata usaha menyiapkan surat permohonan domain berkop sekolah. Dua hal itu saja sudah memajukan proyek ini lebih jauh daripada rapat panjang soal desain.

Setelah itu, buka demo website sekolah ini dan bandingkan dengan daftarmu. Halaman mana yang sudah cukup, mana yang perlu disesuaikan. Bagian tersulit dari cara membuat website sekolah ternyata kebiasaan mengisinya; urusan teknis jauh lebih gampang. Mulai dari yang kecil dan jaga ritmenya.

Foto Fauzi Ahmad Kamil
Ditulis oleh

Fauzi Ahmad Kamil

Tim PahamWeb

Menulis tentang website, desain grafis, dan pemanfaatan teknologi untuk belajar dan berkarya. PahamWeb adalah platform belajar berbasis teknologi sekaligus jasa pembuatan website dan desain grafis dari Sukabumi.

Tentang PahamWeb
Tags:
Bagikan artikel ini:
Suka artikel seperti ini? Info kursus baru, artikel, dan promo langsung ke email Anda. Gratis, bisa berhenti kapan saja.

Baca Juga (Artikel Terkait)